Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

MAKALAH SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL - SIA II

Masuk semester baru, mata kuliah baru dan tentunya tugas baru.
Gue kedapetan ngebahas tentang Sistem Pengendalian Internal di makul SIA 2 kali ini, let's see ...



BAB I
PEMBAHASAN MATERI
PENGENDALIAN INTERNAL AKUNTANSI TRADISIONAL TERHADAP PENGENDALIAN INTERNAL BASIS INFORMASI AKUNTANSI

A.                Landasan Teori
Sebelum mengenal lebih lanjut sistem pengendalian internal akuntansi berbasis informasi (sistem informasi akuntansi ) pada diskusi ini kami akan membahas sistem pengendalian internal secara tradisional atau manual, menurut Mulyadi 2001 dalam bukunya Sistem Akuntansi, dan sistem pengendalian internal dalam buku Sistem Informasi Akuntansi dalam buku  James Hall 2004 :

A.1                        Pengendalian Internal Manual, Tradisional:
                  Menurut Mulyadi 2001, tujuan pengendalian internal ialah:
1.      Menjaga kekayaan perusahaan
2.      Mengecheck ketelitian pengendalian akuntansi
3.      Mendorong efisiensi
4.      Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen

Tujuan diatas mendorongnya kualitas sistem informasi akuntansi, dimana menurut Mulyadi 2001:  akuntansi yang berkualitas dengan informasi yang:
1.      Akurat,
2.      Relevan
3.      Tepat waktu
4.      Lengkap
Ditambahi dengan kualitas lainnya menurut Romney 2008:
1.      Dapat dipahami
2.      Dapat diverifikasi
Semua itu  harus memenuhi Syarat – syarat pengendalian internal sebagai berikut:
1           Struktur Organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional
secara tegas
2           Sistem wewenang & prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan  yang cukup terhadap kekayaan, hutang, pendapatan dan biaya
3           Praktek sehat dalam melaksanakan pekerjaan dan fungsi setiap organisasi
4           Karyawan yang sesuai dengan tanggung jawabnya.

A.2                        Pengendalian Internal pada Sistem Informasi Akuntansi

Dari dasar pengendalian internal secara tradisional dapat kita simpulkan, studi kita dalam pengendalian internal berdasarkan SAS 78, yaitu Otorisasi Pengendalian, pemisahan tugas, pengawasan. Pengendalian akses, catatan akuntansi yang memadai, dan verifikasi independen.
     
      Aktifitas aktifitas pengendalian ini muncul dalam menanggapi resiko fundamental, yang dalam skenario teknologi berbeda juga akan berubah sifatnya, tetapi tidak menghilangkan tujuan dasar pengendalian internal secara tradisional dan berbasis informasi teknologi.

Dijelaskan bahwa Pengendalian Internal Berbasis Informasi, menurut James A. Hall 2004 ialah:

1.               Otorisasi Transaksi
Secara tradisional proses otorisasi hanya memproses transaksi yang sah dalam ruang lingkup otoritas yang telah ditentukan:
     
Contoh: dalam sistem pembelian manual, pembelian persediaan dari pemasok yang ditunjuk ketika tingkat persediaan mencapai titik pemesanan kembali memerlukan otorisasi oleh Jawatan lebih tinggi seperti mana digambarkan flowchat pembelian barang dan prosedur pihak – pihak yang terkait disemester lalu kita pelajari.
Beda dengan lingkungan CBIS, computer based information system, atau sistem informasi Akuntansi berbasis computer, transaksi seringkali di otorisasi oleh peraturan yang sudah terprogram dalam program komputer.
Misalnya: sebuah sistem pembelian akan menentukan kapan, berapa banyak dana dari pemasok mana persediaan – persediaan tersebut dipesan. Transaksi tersebut dapat dilakukan secara otomatis tanpa melibatkan manusia. Namun demikian sulit untuk untuk menentukan apakah transaksi ini sesuai dengan keinginan manusia, dan tentu saja proses produk pesanan tidak harus dilakukan pasokan barang setiap saat karna memerlukan tempat penyimpanan yang lebih lanjut walaupun di database informasi menentukan untuk meng-order kembali bahan mentah yang telah habis tersebut (atau perusahaan hanya membeli pasokan bahan baku ketika dibutuhkan atau tidak), atau persediaan dibeli oleh pemasok yang telah disetujui,  karna prosedur otorisasi otomatis pembelian ini tidak diawasi oleh pihak manajemen.
                                    Dalam lingkungan pengendalian internal berbasi sistem informasi dibutuhkan tanggung jawab otorisasi yang tepat terletak pada ketepatan dan integritas program komputer yang melakukan tugas ini.

2.               Pemisahan Tugas
Dalam sebuah sistem manual akuntansi, salah satu bentuk pengendalian internal ialah pemisahan tugas tugas yang bertentangan selama proses transaksi oleh satu otorisasi ke otorisasi yang lain.
Para individu  diberikan tanggung jawab masing – masing seperti terlampir di Job Descriptionnya masing – masing dimana penipuan hanaya bisa  terjadi jika ada kolusi dari dua individu atau lebih yang tidak saling bersesuaian tugas – tugasnya
Namun pada lingkungan CBIS atau Sistem Informasi Akuntansi tidak sama dengan manual, bahwasanya sebuah program komputer dapat melakukan banyak tugas yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan manual,
Contoh : sebuah program komputer dapat mengotorisasi  pembelian, proses pesanan pembelian, dan rekord untuk utang usaha, ketika faktur Produk Pesanan/Job Order masuk di entry oleh End User (Data Entry) sebuah program dapat merekonsiliasi ke pesanan pembelian, dan menentukan jumlah hutang yang akan dibayar/ kas yang akan dibayar dan mencetak form pembayaran/utang.
Ini bukan berarti pemisahan tugas tidak berperan dalam lingkungan sistem informasi akuntansi berbasi CBIS, namun penekanan pengendalian bergeser ke aktifitas - aktifitas yang dapat mengancam integritas aplikasi,
Maka fungsi – fungsi programlah yang harus terpisah seperti, aktifitas pengembangan program, operasi program, dan pemeliaharaan program, yang ada pada sistem informasi akuntansi yakni DBS (database manajemen sistem) yang mengawasinya ialah DBA database administrator yang sudah dirancang oleh programer.
3.                              Pengawasan
Bahwasanya perusahaan membutuhkan dan mempekerjakan personel
Personel yang “kompeten dan dapat dipercaya” mendukung efisiensi pengawasan , karna perusahaan dapat membangun jangkauan pengendalian, dimana seorang manajer dapat mengawasi beberapa karyawan dalam melaksanakan tugas yang dibawah tanggung jawabnya, dalam sistem manual pengendalian cenderung bersifat langsung dimana manajer dan lini-lini karyawannya berada pada satu lokasi fisik yang sama.
Dalam lingkungan CBIS, terwujudnya sistem informasi akuntansi yang berteknologi komputerisasi pengawasan harus lebih besar untuk beberapa alasan:
1.      Teknologi pemroresan data menjadi sebuah informasi pada komputer menciptakan lingkungan yang semakin rumit, menuntut adanya karayawan dengan keahlian yang unik dan ber Hi-Tech ataupun melek teknologi dan Basis Data Informasi.
2.      Sebagian profesional sistem, berada dalam posisi otoritas yang mengizinkan akses langsung dan tidak terbatas ke berbagai program dan data organisasi, dimana contoh: akses oleh Password dan ID yang dapat diperoleh untuk mengoleksi data dan informasi dalam pekerjaan.
3.      Alasan ketiga, ketidakmampuan pihak manajemen untuk mengamati para karyawan secara memadai dalam lingkungan CBIS.
Contoh: Dimana personel pemroresan data (DBA) mungkin berdomisili di beda tempat dengan Pengguna, menjalankan fungsi mereka dari jauh secara elektronik, jadi pengendalian – pengendalian pengawasan dirancang untuk mengompensasi kurangnya pengawasan secara langsung.
4.               Catatan Akuntansi
Dalam akuntansi manual, organisasi harus menyimpan catatan akuntansi dalam bentuk dokumen asli/arsip/sumber, jurnal dan buku besar, serta laporan – laporan keuangan. Catatan – catatan tersebut menjadi jejak audit untuk informasi – informasi uang dapat digunakan menelusuri transaksi saat dimulai sampai pada disposisi terakhir, dalam wujud kualitas sistem informasi akuntansi yang dapat diverifikasi.
Dalam akuntansi berbasis sistem informasi database/komputerisasi CBIS, catatan – catatan tersebut tidak diperlukan fisihknya, namun diperlukan softcopynya berbentuk PDF, XPS, JPEG,dll lalu di filekan secara magnetis diberbagai alat penyimpanan besar seperti Filezilla dan macam – macam storage lainya.
Jurnal dalam makna tradisional tidak ada dalam lingkungan CBIS, namun sebagai gantinya ayat jurnal atau catatan transaksi yang sesuai sering dipisahkan dan disimpan dalam file basis data yang dinormalisasi. Jejak audit untuk mengverifikasi antara catatan magnetis ini bisa berupa pointer, teknik hashing, indeks dan kunci yang dilekatkan.  Untuk memenuhi tanggung jawabnya pihak manajemen perusahaan, akuntan, auditor harus memahami prinsip – prinsip operasional dari sistem manajemen data yang digunakan tersebut.
5.               PENGENDALIAN AKSES
Akses ke aktiva perusahaan ataupun Keuangan perusahaan yang ada disistem harus dibatasi hanya pada personel yang memiliki otoritas seperti penggunaan USER ID dan PASSWORD, terdapat dua ancaman pada sistem informasi akuntansi: ancaman penipuan komputer dan bencana alam.


BAB II
PENGENDALIAN INTERNAL
SISTEM INFORMASI AKUNTASI YANG BAIK
B.                 Proses Pengendalian Internal yang baik pada Sistem Informasi Akuntansi
Untuk mencegah terjadinya kerugian – kerugian dalam pengendalian internal pada sistem informasi akuntansi,setelah mengetahui pengendalian internal secara manual oleh mulyadi, kita jelaskan pengendalian internal pada sistemnya informasi nya menurut James A. Hall sebagai berikut:
B1.      Keamanan Sistem Operasi  
            Keamanan sistem operasi melibatkan kebijakan, prosedur dan pengendalian yang menentukan siapa saja yang dapat mengakses sisem operasi, sumber daya (file, program, printer) dan tindakan apa saja yang dapat mere lakukan.
            Berikut dibawah ini komponen kemanan yang terdapat pada sebuah sistem operasi:
1.      Prosedur LOG- ON, sistem pengendalian ID dan kata sandi yang diwajibkan untuk akses masuk oleh user yang berotorisasi
2.      Kartu Akses, semua informasi batasan batasan akses pengguna terdapat pada sistem informasi dalam kartu akses, berfungsi untuk meyetujui semua tindakan yang berusaha dilakukakn oleh pengguna terhadap sesi tersebut.
3.      Daftar Pengendalian Akses, seperti direktori , file program dan printer dikendalikan oleh sebuah daftar akses setiap sumber daya. Daftar  ini mendefinisikan hak istimewa akses untuk semua pengguna sumber daya yang sah.
4.      Pengendalian akses diskresioner, dimana administrator pusat biasanya menentukan siapa yang memperoleh akses ke sumber daya sistem operasi tertentu dan mempertahankan daftar pengendalian aksesnya.

Namun para pemilik sumber daya dalam daftar akses ini dapat diberikan pengendalian akses diskresioner, yang memungkinkan mereka bisa memberikan hak istimewa kepada pengguna lainnya.
Misalnya: kontroler yang berhak atas buku besar umum, memberikan hak istimewanya untuk dibaca (read only) kepada jabatan yang lain diberikan hak istimewa tersebut.
            B2.      Pengendalian terhadap Virus dan Program dekstruktif lainnya
Virus dan program – program penghancur lainnya dapat merugikan informasi yang terdapat pada sistem informasi akuntansi, maka layak diberikan piranti lunak yang asli dan bersegel, menginstal dan upgrad antivirus dan pencegahan lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Hall, James A. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta Pusat : Salemba Empat, 2004
Mulyadi. Sistem Akuntansi. Jakarta : Salemba Empat,2001

Semoga bermanfaat :)

Rabu, 23 April 2014

KEWIRAUSAHAAN



Pada Hakikatnya sikap pantang menyerah dan ulet merupakan perjuangan wirausahawan yang tangguh, penuh semangat, tidak putus asa, kuat kerja keras dan tidak menyerah. Seorang wirausaha mempunyai cita-cita tinggi untuk sukses didalam mengelolah kegiatan usahanya/ bisnisnya, cita-cita wirausahawan yang sangat tinggi untuk sukses didalam mengelola kegiatan usaha/ bisnisnya akan menjadi pendorong dan daya tahan dalam menghadapi segala rintangan, hambatan, cobaan dan kendala dalam berwirausaha. Parawirausahawan harus berambisi ingin maju (ambitition drive) didalam melaksanakan kegiatan usaha bisnisnya. Akan tetapi, tentu saja sikap kerja pantang menyerah dan ulet dalam mengelola kegiatan usaha/ bisnisnya harus ditunjang oleh pengorbanan, perjuangan, semangat, dan kepercayaan pada diri parawirausahawan sendiri. Sikap kerja pantang menyerah dan ulet dalam berwirausaha pada hakikatnya merupakan sinar terang keberhasilan dalam menjalankan kehidupan usahanya baik untuk diri wirausaha, keluarganya maupun untuk masyarakat. Seorang wirausahawan yang memiliki sikap kerja pantang menyerah dan ulet didalam usahanya pada hakekatnya adalah orang yang tidak mengenal lelah didalam berwirausaha. Adapun faktor-faktor yang dapat mendukung sikap kerja pantang menyerah dan ulet dalam kegiatan usaha atau bisnis para wirausahawan yaitu :
• Bekerja dengan penuh keyakinan, penuh semangat, pantang menyerah dan ulet dalam berwirausaha.
• Bekerja dengan penuh ketekunan dan memiliki tekad yang terarah dalam berwirausaha
• Bekerja berdasarkan kemampuan, bakat, minat, pengalaman, pendidikan dan kesanggupandalam berwirausaha
• Bekerja penuh semangat, penuh kegairahan dan penuh ketabahan dalam berwirausaha.

Karakteristik wirausaha yang baik akan membawa kearah kebenaran dan keselamatan sikap kerja keras dan ulet, serta akan menaikkan derajat dan martabat wirausahawan. Karakteristik lainnya yang perlu dipahami dan dipelajari adalah adanya teknik mawasdiri, umpan balik, tanggapan, ilmu pengetahuan, keterampilan serta kerja keras dan ulet. Karakteristik wirausahawan yang baik didalam berwirausaha adalah perjuangan yang menunjukan sikap, ulet, pekerja keras, optimis dan enerjik di dalam mengelola kegiatan usahanya. Adapun karakteristik para wirausahawan yang baik dan perlu dikembangkan agar bisa menunjukkan sikap kerja pantang menyerah dan ulet yaitu sebagai berikut :

1.         Kerja keras, ulet, dan disiplin
2.         Mandiri dan realistis
3.         Prestatif dan komitmen tinggi
4.         Belajar dari pengalaman
5.         Berfikir positif dan bertanggung jawab
6.         Memperhitungkan resiko usaha
7.         Mencari jalan keluar dari setiap permasalahan
8.         Merencanakan sesuatu sebelum bertindak 
9.         Kreatif dan inovatif
10.     Kerja keras dalam sikap ulet

Dedikasi seorang wirausahawan yang bekerja keras dan menunjukan sikap kerja kerasdan ulet terhadap kegiatan usaha/ bisnisnya sangat tinggi bahkan kadang-kadang ia akan mengorbankan hubungan dengan keluarganya untuk sementara. Ia selalu memperhatikan kegiatannya semata-mata untuk kemauan dan keberhasilan kegiatan wirausahanya. Adapun jenis pekeraan yang dilakukannya, profesi apapun yang di hadapinya, para wirausahawan selalu mampu melihat ke depan dan berjuang untuk mencapai sukses dahulu karirnya. Kerja keras (capssity for hardwork) para wirausahawan adalah perjuangan yang menunjukan sikap kerja pantang menyerah dan ulet, kera keras, percaya diri, danoptimis. Menurut Murphy dan Peek (1980:8) guna mencapai sukses aku karier,seseorang harus memulai dengan kera pantang menyerah dan ulet, selain itu harusdiikuti dengan tekad yang kuat dalam mencapai tujuan pengelolaan kegiatanusahanya. Wirausahawan harus dapat bekerja sama dengan orang lain, berpenampilanbaik, tepat dalam membuat keputusan, memiliki dorongan ambisi dan pintarberkomunikasi. Perjuangan yang menunjukan sikap ulet adalah tidak boleh berpangkutangan dan mengharapkanrejeki hanya dengan berdoa saa tanpa bekerja dan berusaha. Seperti kita ketahui bahwa berdoa tanpa usaha kera keras dan pantang menyerah tidak ada gunanya didalam berwirausaha.Wirausahawan yang memiliki komitmen tinggi dan pantang menyerah di dalam berwirausaha, setidaknya harus memiliki 7 kekuatan yang dapat membangun kepribadian ,yaitu:
1.         keyakinan yang kuat untuk maju
2.         kemauan yang keras untuk maju
3.         pemikiran yang konstruktif dan kreatif 
4.         kesabaran dan ketabahan
5.         kejujuran dan tanggung jawab
Mengelola Konflik
Dalam berwirausaha dengan memotivasi sikap pantang menyerah dan ulet makamengetahui bagaimana konflik yang terjadi pada diri seorang wirausaha. Berikut ini akandijabarkan pengertian dari Konflik dan bagaimana mengelola konflik tersebut.Menurut luthans(1981) konflik adalah yamg ditimbulkan oleh adanya kekuatan yangsaling bertentangan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingandan permusuhan. Dengan adanya suatu perbedaan tidak selalu berarti perbedaan keinginan. Sumberdari konflik merupakan suatu adanya perbedaan keinginan, maka perbedaan pendapattidak selalu berati konflik. Dalam dunia usaha, persaingan sangat erat hubungannya dengankonflik karena dalam persaingan usaha terdapat banyak pihak yang menginginkan hal yangsama namun pada akhirnya, tidak semuanya dapat tercapai. Konflik tidak selalu harusdihindari, karena tidak selalu konflik itu membawa efek negatif. Berbagai konflik yangringan dan dapat dikendalikan (dikenal dan ditanggulangi) dapat berakibat positif bagimereka yang terlibat. Sebab-sebab terjadinya konflik dalam berwirausaha sangatlah beragam,diantaranya organisasi dalam berwirausaha, praktek hubungan manusia yang kurangseimbang, konflik batin perorangan.
Perbedaan antara konflik dan persaingan
ü  Persaingan: dimana salah satu pihak yang bertentangan mampu untuk menjaga dirinya dari gangguan pihak lain dalam pencapaian tujuan
ü  Konflik: dimana salah satu pihak yang bertentangan mengganggu pihak lain dalam mencapai tujuannya.
Contoh:
Jika dua siswa yang masing-masing ingin meraih juara kelas, dalam usaha mereka masing-masing tidak mengganggu pihak lain, merupakan persaingan. Tetapi jika dalam mencapai tujuan masing-masing siswa tersebut mengganggu pihak lain, misalnya mempermasalahkan cara pihak lain dalam mencapai tujuannya, maka akan timbul konflik.
Secara sederhana konflik terjadi karena:
a. kegagalan komunikasi karena proses komunikasi tidak berlangsung secara baik
b. pesan sulit dipahami karena perbedaan pengetahuan
c. perbedaan pola pikir
d. perbedaan kepentingan
e. nilai-nilai yang diyakini setiap pihak
f. prosedur yang tidak jelas
Perubahan pandangan tentang konflik
No
Pandangan lama
Pandangan Baru
1.
Konflik dapat dihindarkan
Konflik tidak dapat dihindarkan
2.
Konflik disebabkan oleh kesalahan-kesalahan manajemen dalam perancangan dan pengelolaan
Konflik timbul karena banyak sebab, termasuk struktur organisasi, perbedaan tujuan yang tidak dapat dihindarkan, perbedaan dalam

Peran konflik dalam suatu usaha
a.         Berperan benar (functional)
Konflik mempunyai potensi untuk pengembangan
b.         Berperan salah (disfunctional)
Konflik menjadi pengganggu pelaksanaan kegiatan organisasi
1.         Melakukan Usaha dengan Selalu Mencari Sesuatu yang Baru
a.         Kreatif
Sifat Kreatif yaitu mempunyai kemampuan untuk menciptakan, mampu menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun kenyataannya yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Tipe-tipe Kreatif :
v  Menciptakan dan membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada
v  Mengombinasikan / mensintesiskan, dua ha; atau lebih yang sebelumnya  tidak saling berhubungan menjadi berhubungan
v  Memodifikasikan sesuatu yang memang sudah ada, berupaya mencari cara-cara untuk membentuk fungsi-fungsi baru atau menjadikan sesuatu menjadi berbeda penggunaannya dengan orang lain.

b.         Inovasi
Inovasi merupakan suatu proses mengubah peluang menjadi gagasan atau ide-ide yang dapat di jual dan bukan selalu berupa ide-ide yang sangat rumit, tetapi kadang-kadang inovasi berasal dari ide-ide baru yang sepele dan sejenis saja, asal merupakan yang baru dan harus lebih baik dari yang telah ada.


Jenis-jenis inovasi:
v  Penemuan (invensi): produk / jasa / proses yang benar-benar baru, ex: wright bersaudara (pesawat terbang), alexander graham bell ( pesawat telepon)
v  Pengembangan (ekstensi): pemanfaatan / penerapan lain pada produk, jasa, proses yang ada, ex: raynoc : mc. Donald
v  Penggandaan (duplikasi): refleksi kreatif atau konsep yang telah ada, ex: walmart: department store
v  Pemaduan (sintesis): kombinasi atas konsep-konsep dan faktor-faktor yang telah ada di dalam penggunaan / formulasi baru

Menyusun Visi dan Misi Usaha

A.       Menyusun visi, misi perusahaan
1.         Pengertian Visi:
a.         Gambaran masa depan perusahaan yang akan dipilih dan diwujudkan pada suatu saat yang ditentukan.
b.         Cita-cita masa depan perusahaan yang akan melakukan usaha tersebut
c.         Suatu kondisi ideal masa depan yang realistis, dapat dipercaya, meyaklinkan, serta mengandung daya tarik.
Tujuan merumuskan visi:
a. Mencerminkan apa yang ingin dan akan dicapai oleh organisasi perusahaan.
b. Memberikan arah dan fokus strategi perusahaan yang jelas
c. Menimbulkan komitmen bagi seluruh jajaran dalam lingkungan perusahaan

2. Pengertian misi:
a. maksud khas atau unik dan mendasar yang membedakan perusahaan dengan perusahaan lain serta mengidentifikasikan ruang lingkup kegiatan usaha / perusahaan yang bersangkutan.
b. Tindakan untuk mewujudkan visi perusahaan.
c. Menjelaskan mengapa perusahaan harus ada, apa yang dilakukan, dan bagaimana cara melakukan.
 Tujuan pembentukan misi perusahaan:
a. menentukan kebutuhan suara dan tekad para pendiri dari maksud pendirian perusahaan
b. memberikan suatu arah umum bagi para pengelola perusahaan
c. memberikan dasar untuk mendorong penggunaan dan alokasi sumber daya perusahaan
B.       Perencanaan Usaha
Pengertian: fungsi manajemen yang berhubungan dengan pemilihan visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, prosedur, aturan, program dan anggaran
Sifat perencanaan usaha
a. Fokus: dibuat berdasarkan visi, misi tertentu, serta tujuan yang jelas
b. Rasional dan faktual:perencanaan usaha dibuat berdasarkan pemikiran yang masuk akal, realistik, berorientasi masa depan serta didukung dengan fakta-fakta yang ada
c. Berkesinambungan dan estimasi: perencanaan usaha dibuat dan dipersiapkan untuk tindakan yang berkelanjutan serta pemikiran-pemikiran tentang kondisi masa datang
d. Preparasi dan fleksibel: perencanaan usaha yang dibuat sebagai persiapan, yaitu pedoman untuk tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan yang disesuaikan dengan lingkungan bisnis yang dihadapi
e. Operasional:perencanaan usaha dibuat sederhana mungkin, rinci serta dapat dilaksanakan

Kegiatan-kegiatan dalam menyusun rencana kegiatan perusahaan
Merupakan mengatur tentang proses kegiatan usaha, perluasan usaha, keuangan usaha, produksi, pemasaran produk, penjualan produk, tenaga kerja, peralatan, dsb.
Ada 2 rencana kegiatan yang disusun:
a. aspek-aspek bisnis: memonitor dan merevisi anggaran, memanajemeni arus produksi, memasarkan produksi barang dan jasa.
b. kegiatan bisnis: mengadakan kontak dengan para bankir, akuntan, pengacara, dan orang-orang yang membantu dalam aspek-aspek finansial dan hukum.

Keuntungan dari prinsip-prinsip penyusunan rencana kegiatan
a. memberikan pedoman untuk mengadakan pengawasan dalam perusahaan
b. melaksanakan kegiatan secara teratur dan produktif
c. memberikan gambaran yang jelas dan lengkap mengenai seluruh kegiatan perusahaan
d. memberikan gambaran yang jelas sehingga pekerjaannya menjadi produktif
e. menggunakan fasilitas-fasilitas dan alat-alat secara efektif dan efisien
f. menyediakan alat evaluasi untuk menentukan keberhasilan usaha


Aspek-aspek yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dalam menyusun rencana kegiatan perusahaan:
a. keuntungan perusahaan
b. proses produksi perusahaan
c. keuangan perusahaaan
d. lokasi usaha perusahaan
e. pemasaran dan penjualan produk perusahaan

Proses perencanaan usaha
Proses perencanaan usaha


Keterangan:

a.         Langkah 1: mengidentifikasi peluang usaha
Pada umumnya suatu produk berpotensi untuk laku dijual dan menguntungkan apabila penawaran untuk produk tersebut masih kecil dari permintaannya. Peluang usaha muncul ketika permintaan pasar lebih besar dari penawarannya. Jadi, peluang usaha didirikan oleh masih adanya permintaan pasar untuk produk tersebut

b.         Langkah 2: menentukan jenis usaha yang akan dilakukan
Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan:
1) Jumlah modal dan sumber modal yang diperoleh
2) Ketersediaan bahan baku secara kualitas, kuantitas, maupun kontinuitasnya
3) Ketersediaan tenaga kerja yagn diperlukan
4) Prospek pemasaran produk yang dihasilkan
5) Cara-cara pendistribusian
6) Daya beli masyarakat terhadap produk yang dihasilkan
7) Selera konsumen

c.         Langkah 3:melakukan studi kelayakan usaha
1) Aspek pasar dan pemasaran
Jenis usaha dianggap layak bila memiliki peluang pasar yang relatif tinggi yang ditunjukkan oleh jumlah permintaan
2) Aspek produksi
Jenis usaha dianggap layak bila lokasi usaha yang strategis, tersedianya fasilitas dan peralatan produksi yang memadai, tersedianya pasokan bahan baku yang terus menerus, dan tersedianya tenaga kerja yang dibutuhkan
3) Aspek finansial
Jenis usaha dianggap layak bila jenis usaha tersebut mampu memberikan laba usaha yang memadai kepada investor dan atau kepada penguusaha yang menjalankan usaha tersebut
4) Aspek organisasi dan manajemen
Berkenaan dengan struktur kepemilikan usaha, struktur organisasi, serta tim manajemen yang mengelola jenis usaha yang direncanakan

d. Langkah 4:membuat proposal usaha
1) Pengertian: dokumen tertulis yang dibuat wirausaha mengenai rencana usaha secara rinci yang baru akan dilaksanakan, menggambarkan unsur-unsur relevan, baik secara internal maupun eksternal mengenai perusahaan untuk memulai suatu usaha, menngugkapkan daya tarik dan harapan sebuah usaha kepada penyandang dana potensial
2) Mempersiapkan penyusunan:
Ø  Mencari informasi untuk menetapkan jenis-jenis usaha yang cocok dan menguntungkan
Ø  Memiliki pengetahuan usaha
Ø  Mempertimbangkan permodalan yang dimiliki
Ø  Mengevaluasi berbagai pilihan jenis usaha yang paling sesuai dan menguntungkan
Ø  Mengeliminasi kegagalan usaha
3) Tujuan penyusunan:
Ø  Merupakan inisiatif membuka usaha
Ø  Menjamin fokus tujuan dari berbagai personil yang ada dalam perusahaan
Ø  Untuk mendeteksi secara cermat besarnya tingkat keberhasilan usaha
4) Manfaat:
Ø  Memberikan informasi potensi dasar dan perkiraan market share yang mungkin diraih
Ø  Memberikan informasi sumber-sumber keuangan yang jelas dengan evaluasinya
Ø  Untuk mengidentifikasi resiko kritis guna mengantisipasinya
Ø  Memberi gambaran kemampuan wirausahawan dalam memenuhi kewajibannya dalam mengelola usaha, melalui aspek finansial yang tertuang dalam proposal usaha
5) Petunjuk penyusunan:
Ø  Menetapkan jenis usaha yang diinginkan
Ø  Mentapkan produk yang akan digunakan
Ø  Menentukan aspek pemasaran produk
Ø  Menentukan aspek penjualan produk
Ø  Menetapkan aspek organisasi dan manajemen
Ø  Menetapkan aspek yuridis
Ø  Menetapkan aspek keuangan
Ø  Menetapkan aspek kebijakan pemerintah
Ø  Mempelajari aspek AMDAL
6) Kerangka proposal:
Ø  Kata pengantar: mengutarakan tujuan usaha, manafaat usaha secara umum dan secara ekonomis
Ø  Umum: mengutarakan nama perusahaan, pemilik perusahaan, bentiuk perusahaan, bidang usaha, tempat kedudukan, dan jumlah tenaga kerja
Ø  Aspek produk yang akan dibuat: mengutarakan jenis barang yang dibuat, banyaknya barang yang akan dibuat, profil para konsumen yang akan dituju
Ø  Aspek pemasaran produk: memuat tentang jasa/produk yang akan dipasarkan, dapat dikuasai, pasar yang direncanakan, penetapan harga produk, distribusi yang akan dilakukan, strategi promosi, dan sistem penjualan produk
Ø  Aspek teknis: memuat tentang rencana display untuk kantor, toko, pasar, butik, supplier, daerah lokasi, IMB, kebutuhan tenaga kerja, peralatan kerja, bahan baku, dan jadwal mulai usaha
Ø  Aspek organisasi dan manajemen: memuat tentang jenis dan volume pekerjaan, struktur organisasi, pembagian pekerjaan, sistem balas jasa, dan pembinaan personil
Ø  Aspek yuridis: memuat tentang akte pendirian, AD dan ART, tata tertib, keselamatan kerja, AMDAL, status kepemilikan usaha, bentuk badan usaha, dan izin usaha
Ø  Aspek administrasi: memuat tentang tata usaha dan personalia, pemasaran produk, keuangan atau permodalan, dan bahan arus dokukmen
Ø  Aspek keuangan: memuat tentang sumber modal atau investasi
Hal2 lainnya yang dipandang perlu, seperti modal kerja setiap periode

Kunci keberhasilan usaha
Faktor-faktor pendukung keberhasilan usaha adalah:
a.         Faktor manusia:
Manusia sebagai makhluk yang berakal dan bersifat sosial, maka ia sangat terlibat di dalam kegiatan berwirausaha untuk memperoleh keuntungan yang diharapkannya. Betapapun canggihnya teknologi, jika manusianya malas, bodoh, apatis, dan tidak mempunyai semangat untuk maju, maka sudah barang tentu segala kegiatan usahanya akan menemui kegagalan.

b.         Faktor keuangan
Agar mampu bertahan dan berkembang, seorang wirausahawan harus dapat mengelola keuangan secara ketat dan disiplin. Wirausahawan harus mengetahui dan mampu menerapkan pedoman dasar dalam mengurus keuangan, yaitu dengan adanya pembukuan dan administrasi yang rapi, teliti, dan tepat.

c.         Faktor organisasi
Sasarannya adalah untuk memdapatkan bentuk kerja sama yang berguna bagi perusahaan. Sedangkan tujuannya adalah untuk meningkatkan pemasaranproduk yang jauh lebih efektif dan efisien dengan hasil yang memuaskan. Sehingga sumber daya akan masuk ke dalam suatu pola, dan dapat bekerjasama secara berdaya guna dan berhasil guna untuk mencapai suatu tujuan.
d.        Faktor perencanaan
Merupakan alat pengawasan dan alat pengendalian. Fungsi perencanaan usaha meliputi perumusan maksud berwirausaha, yang ditunjukkan dalam bentuk sasaran yang akan dicapai. Dasar utama dalam perencanaan usaha adalah memiliki gambaran yang jelas mengenai produk-produk yang akan ditawarkan atau dipasarkan kepada konsumen.
Tujuan perencanaan usaha:
Ø  Mendorong cara berfikir seorang wirausahawan jauh kedepan
Ø  Mengkoordinasi kegiatan usaha
Ø  Mengawasi kegiatan-kegiatan usaha
Ø  Merumuskan tujuan usaha yang akan dicapai

e.          Faktor mengatur usaha
Seorang wirausahawan yang mengelola usahanya dengan baik selalu berhubungan dengan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan pengendalian usaha. Pada umumnya, seorang wirausahawan yang sudah berpengalaman dapat menghindari masalah-masalah atau hal-hal yang banyak merugikan perusahaannya. Oleh sebab itu, pengalaman berwirausaha sangat penting karena wirausahawan yang bersangkutan akan dapat bekerja lebih giat, lebih efisien, dan lebih efektif daripada perusahaan yang baru didirikan.

f.          Faktor pemasaran
Faktor pemasaran produk perusahaan dapat ditinjau, sebagai berikut:
Ø  Daya serap dan prospeknya
Ø  Kondisi pemasaran dan prospeknya
Ø  Program pemasarannya

g.         Faktor administrasi
Bisnis atau usaha apapun akan dijalankan oleh seorang wirausahawan, perlu sekali mancatat kejadian-kejadian dalam kegiatan usahanya. Seorang wirausahawan yang berhasil di dalam usahanya adalah yang selalu mencatat dan mendokumentasikan segala kejadian usahanya, yang berkaitan dengan masalah administrasi.


h.         Faktor fasilitas pemerintah
Fasilitas pemerintah, khususnya pemerintah daerah sangat diperlukan. Fasilitas yang diperlukan itu berupa pemberian bantuan modal, bantuan kemudahan dalam mengurus izin usaha, dsb.
Beberapa fasilitas yang diberikan pemerintah kepada wirausahawan yang mengelola usaha kecil, al:
Ø  Keringanan membayar pajak
Ø  Kemudahan dalam memberikan izin usaha
Ø  Memberikan keringanan dalam tarif prasarana usaha
Ø  Memberikan kemudahan dalam pendanaan usaha
Ø  Membantu dalam penyebaran informasi pasar, teknologi, desain, dsb
Ø  Memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan dalam usaha

Ø  Membantu fasilitas listrik, bahan baku, jalan raya, pemasaran produk ke luar negeri, dsb.